Ragu

Perihal rindu dan jarak yang memisahkan raga kita,
aku sudah biasa.
Walau terkadang, ketika lampu - lampu di pertokoan itu telah dinyalakan
aku terbaring di kasur membayangkan diri dalam dekapan.

Pikiranku berkelana jauh
hanya untuk pulang menerkam tuan.
"Kenapa tak kau hentikan saja?" tanyamu.

Lalu mengapa mentari terbenam
membiarkan bintang bersinar menggantikannya
mengapa angin seketika bertiup kencang 
menyesatkan pelaut dari tujuan

begitu pula aku,
bagaimana cara aku menahan sesuatu yang tak beraga
menjelaskan sesuatu yang tak bermakna.

Jadi jangan marah, wahai sayang,
sesungguhnya raguku ini hanya butuh kata - kata
yang mendekapnya erat bagai pelukan
menentramkan gejolak, sunyikan bingar


bylilacrose // Ragu

Comments

Popular posts from this blog

Bertamu

Asing

Bangku di Samping Jendela