Posts

Showing posts from December, 2020

Bangku di Samping Jendela

Lampu - lampu kota pada sore itu sudah mulai dinyalakan dan kerumunan orang masih saja tak berkurang malah makin menjadi seiring tampaknya sang purnama, berjalan dan berlari hanya mereka yang tau, kemudian aku, duduk terdiam dan terpaku mencoba mengungkap aksara yang semakin mengabu. Sejenak kupikirkan, betapa kejinya dunia yang terus berputar, detik yang terus berjalan, dan hari yang kian berganti meninggalkanku di sini seorang diri  yang masih saja enggan untuk berdiri, seakan tak mampu 'tuk melangkah lagi. Lihatlah bangku di samping jendela itu yang menjadi saksi dua insan beradu kasih berpegangan tangan seakan dunia hanya mereka yang memiliki, tenggelam menjadi budak akan perasaan yang merajai diri. Namun kini ketika aku mencoba 'tuk mengulang memori, nyatanya hanya pilu dan sesal yang menghampiri diri. Terkadang ingin kumencaci tuan yang memaksa pergi, membuatku terkurung dalam ruang dan waktu yang enggan membiarkanku lari wa...

Tentang Ambisi dan Hati

Angannya berkelana jauh, melayang bersama aksara berisi mimpi dan harapan yang kemudian pulang hanya untuk menerkam tuan. Di mana hasrat yang dulu itu, berlari mengejar angin bagai layang - layang ingin terbang tinggi. Di mana diri yang dulu itu, bertatih - tatih mengejar prestasi sampai hati tak hiraukan diri. Deretan lencana yang telah lama ditinggalkan, berdebu dan merindukan teman, menjadi saksi atas meredupnya semangat dari suatu raga sepanjang hidup berlayar mendambakan haluan yang dikira indah nyatanya fana. Mungkin niatnya yang tidak murni, atau mungkin dirinya yang salah bermimpi, mungkin juga hati butuh sendiri berhenti sejenak dan bernapas sebelum mati. Nyatanya menjadi bahagia tak harus selalu urusan medali ataupun yang tertinggi, setiap insan memiliki caranya sendiri untuk merasa utuh tanpa mendustai hati. bylilacrose //  Tentang Ambisi dan Hati

Merindukan yang di Sisi

Orang - orang bilang, rindu itu urusan jarak yang memisahkan, membatasi dua raga yang meradang ingin dekat ataupun waktu yang membedakan langit untuk seseorang menikmati malam sedang kasihnya menikmati pagi. Kemudian bagaimana dengan rindu ini yang tuannya berada tak jauh 'tuk kuamati, berdua dalam ruang yang sepi, bersama walau aku merasa sendiri. Tangan kita menyatu dalam janji sambil menyusuri jalan yang t'lah lama kita lewati namun langkahnya seolah tak sama lagi membuatku bertanya apakah tujuannya berbeda di akhir nanti. Ada apa dengan kasih, kendati raganya tak pergi, hatinya tak juga di sini. Hangatnya pelukmu yang dulu mengisi hari tersapih bersama angin oleh badai hatimu yang dingin. Katamu kita baik - baik saja namun sendu matamu mengatakan segalanya menjawab segala resahku yang nyatanya tak fana tanganmu yang selama ini kugenggam hanyalah bayangan sedang dirimu yang sesungguhnya t'lah lama hilang. bylilacrose //  Merindukan yang di ...

Surat untuk Semesta

Selamat malam semesta, dia yang kautitipkan sedang kurindukan raganya jauh terpisahkan jarak yang membatasi pelukan telah lama kudambakan. Semesta, maaf bila aku mengingkarimu, sekarang ini bintang - bintangmu tak terasa begitu terang kalah akan sinar dari layar yang luasnya tak sebanding langitmu, suryamu juga tak terasa begitu hangat terkalahkan suaranya yang terdengar dekat walau hanya ilusi semata. Ribuan kali kata rindu itu terucap namun rasa pahit di hati masih belum bisa terungkap malah caci yang keluar dalam benak kepada takdir dan jalan yang sudah kau berikan. Adalah ketamakan dari hati yang meradang, dua manusia mendesak ingin berada dalam dekapan, dinding putih menjadi saksi, detik terus berjalan tak peduli namun kita hanya bisa sembunyi dalam balutan kain milik sendiri. bylilacrose // Surat untuk Semesta