Bangku di Samping Jendela
Lampu - lampu kota pada sore itu sudah mulai dinyalakan
dan kerumunan orang masih saja tak berkurang
malah makin menjadi seiring tampaknya sang purnama,
berjalan dan berlari hanya mereka yang tau,
kemudian aku, duduk terdiam dan terpaku
mencoba mengungkap aksara yang semakin mengabu.
Sejenak kupikirkan,
betapa kejinya dunia yang terus berputar,
detik yang terus berjalan, dan hari yang kian berganti
meninggalkanku di sini seorang diri
yang masih saja enggan untuk berdiri,
seakan tak mampu 'tuk melangkah lagi.
Lihatlah bangku di samping jendela itu
yang menjadi saksi dua insan beradu kasih
berpegangan tangan seakan dunia hanya mereka yang memiliki,
tenggelam menjadi budak akan perasaan yang merajai diri.
Namun kini ketika aku mencoba 'tuk mengulang memori, nyatanya hanya pilu dan sesal yang menghampiri diri.
Terkadang ingin kumencaci
tuan yang memaksa pergi,
membuatku terkurung dalam ruang dan waktu yang enggan membiarkanku lari
walau kusadari,
segala rasa dan rindu masih dia yang memiliki.
bylilacrose // Bangku di Samping Jendela
Comments
Post a Comment