wahai tuan yang tak bernyonya sudah lama rupanya kau ditinggal dirinya yang dulu mengisi hati dan harimu yang tak selalu indah rumahnya kini kosong tak ada yang tinggal kucoba ketuk pintunya yang usang penuh debu mungkin ’tlah lama tuan biarkan terkejutku dibuatnya nyatanya tak terkunci malah terbuka lebar di dalamnya kulihat banyak jejak bekas mereka yang pernah singgah sesaat rupanya tuan sengaja membiarkan, wanita - wanita datang untuk duduk sejenak namun heran tak kulihat, bekas cangkir yang telah ditenggak lalu kususuri seluruh lorongnya di dindingnya masih terlihat samar - samar penuh dengan lukisan seorang perempuan yang tak kukenal menghidupi seisi rumah tuan yang nyatanya tak pernah ia coba untuk menghapusnya kini baru aku tersadar mereka yang datang tak pernah benar - benar disambut tuan walaupun raganya hadir di depan mata hatinya masih terikat oleh bayang - bayang nyonya bylilacrose // Bertamu
kau berbicara dalam kata yang tak dapat kuartikan padahal lidah kita menari harmonis dalam satu nada namun tetap saja kata - kata yang keluar dari mulutmu terdengar samar bagai bahasa asing yang tak pernah kukenal t’lah kucoba menenggelamkan diriku dalam lautan buku dan karya yang ada dengan harapan menambah kosakata tapi malah kau utarakan kalimat baru yang kembali aneh di telinga kau berkata merah dan kuberikan kau mawar, namun kau biarkannya mati dan pergi memetik petunia kau berkata jingga dan kuajak kau melihat matahari yang terbenam, namun kau tinggalkan diriku dan berjalan ke timur lalu kau mengatakan cinta namun tetap aku sendiri dengan pikiranku pada pukul 3 pagi tak bisa tidur sedang kau terlelap dan aku pun gagal memahami dirimu katamu cinta, namun mungkin cinta yang kau maksud berbeda dalam kamus kata yang kupunya bylilacrose // A sing
Lampu - lampu kota pada sore itu sudah mulai dinyalakan dan kerumunan orang masih saja tak berkurang malah makin menjadi seiring tampaknya sang purnama, berjalan dan berlari hanya mereka yang tau, kemudian aku, duduk terdiam dan terpaku mencoba mengungkap aksara yang semakin mengabu. Sejenak kupikirkan, betapa kejinya dunia yang terus berputar, detik yang terus berjalan, dan hari yang kian berganti meninggalkanku di sini seorang diri yang masih saja enggan untuk berdiri, seakan tak mampu 'tuk melangkah lagi. Lihatlah bangku di samping jendela itu yang menjadi saksi dua insan beradu kasih berpegangan tangan seakan dunia hanya mereka yang memiliki, tenggelam menjadi budak akan perasaan yang merajai diri. Namun kini ketika aku mencoba 'tuk mengulang memori, nyatanya hanya pilu dan sesal yang menghampiri diri. Terkadang ingin kumencaci tuan yang memaksa pergi, membuatku terkurung dalam ruang dan waktu yang enggan membiarkanku lari wa...
Comments
Post a Comment