Terbiasa

Hati ini miliknya, aku tersakiti untuknya
di atas kerikil yang melepuh di tengah hari, 
kucoba meraihnya
luka di telapak kaki tak terasa, darah telah bercucuran.
Hati ini miliknya, aku terbakar untuknya
di tengah kencangnya angin dari badai hatimu yang dingin, kucoba pertahankan
api kecil dari batang korek yang kunyalakan sendiri hingga habis dan menghitam,
yang kemudian kupatahkan tanganku dan kakiku dan sekujur tubuhku
agar apinya tetap menyala.

Kini hanya hatiku yang tersisa, 
ketakutanku akan kepergianmu yang mencari kehangatan baru membuatku mematahkan hatiku sendiri demi kamu yang tinggal sejenak.

ketika kau pergi dan tak ada yang tersisa dari diri
aku sadar
aku telah merindukan dirimu
jauh sebelum ragamu benar - benar hilang 
meninggalkan kesunyian yang begitu terasa
dan segala rasa yang aku sudah biasa


bylilacrose // Terbiasa

Comments

Popular posts from this blog

Bertamu

Asing

Bangku di Samping Jendela